Senin, Februari 23, 2026
spot_img
spot_img

Pendidikan Indonesia dan Jurang Kompetensi Global

spot_imgspot_img

Indonesia berdiri di persimpangan ambisi besar dan realitas keras dalam upaya menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul yang mampu bersaing di era globalisasi. Dalam wacana pembangunan nasional dan visi Indonesia Emas 2045, pendidikan sering disebut sebagai fondasi utama. Namun, ketika berbicara soal kualitas pendidikan dan kesiapan SDM dalam menghadapi tantangan global, data empiris tidak bisa diabaikan.

Sistem pendidikan Indonesia adalah salah satu yang terbesar di dunia, dengan puluhan juta pelajar dan ratusan ribu sekolah. Meski demikian, kualitas hasil pendidikan masih menghadapi kritik tajam dari akademisi, pembuat kebijakan, dan lembaga internasional. Salah satu indikator terpenting yang sering digunakan untuk mengukur kualitas pembelajaran adalah Programme for International Student Assessment (PISA), tes yang menilai kemampuan literasi membaca, matematika, dan sains siswa usia 15 tahun di seluruh dunia.

Baca Juga

Hasil PISA 2022 menunjukkan ritme capaian yang masih mengecewakan: skor literasi membaca Indonesia berada di 359 poin, matematika 366–379 poin, dan sains 383 poin, angka yang jauh di bawah rata-rata negara-negara maju dan masih berada di peringkat bawah di antara lebih dari 80 negara peserta.

- Advertisement -

Skor tersebut tidak hanya menunjukkan bahwa banyak siswa belum mencapai kecakapan dasar yang dibutuhkan di abad ke-21, tetapi juga mencerminkan tantangan struktural sistem pendidikan nasional dalam menghasilkan output yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.

Kendati ada sedikit peningkatan peringkat Indonesia di PISA 2022 dibandingkan 2018, fakta skor mentah yang rendah tetap menunjukkan kebutuhan perbaikan mendalam dalam pendekatan pedagogi, kurikulum, dan praktik pembelajaran.

Ambisi Indonesia dalam Konteks SDM Global

Baca Juga

Dalam era transformasi digital dan persaingan global, kualitas pendidikan bukan lagi soal jumlah lulusan, melainkan kemampuan berpikir kritis, kompetensi teknologi, serta kreativitas dan inovasi. Saat ini, sistem pendidikan Indonesia masih menghadapi kesenjangan yang tajam antara kebutuhan dunia kerja modern dan kompetensi lulusan. Kualitas SDM yang dihasilkan pun belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan industri berteknologi tinggi, riset, dan inovasi.

Disparitas kualitas pendidikan antar daerah memperparah situasi ini. Sekolah-sekolah di kawasan urban besar seperti Jakarta atau Surabaya secara umum memiliki akses lebih baik terhadap fasilitas digital dan sumber daya pengajar yang lebih kompeten, dibandingkan sekolah di daerah terpencil. Akses internet yang belum merata di berbagai wilayah juga menghambat pembelajaran digital yang kini menjadi kebutuhan dasar pendidikan modern.

Lebih jauh lagi, data tingkat partisipasi pendidikan menunjukkan bahwa meskipun partisipasi di sekolah dasar mendekati universal, tantangan terjadi di jenjang pendidikan menengah dan tinggi, terutama di komunitas berpenghasilan rendah.

Fakta Kualitas Pendidikan dan Dampaknya pada SDM

Data PISA dan laporan lain menunjukkan bahwa banyak pelajar Indonesia yang belum menguasai keterampilan dasar yang dibutuhkan dunia kerja modern. Hanya sebagian kecil siswa yang mencapai level kompetensi dasar dalam matematika dan literasi, sementara mayoritas berada di bawah standar minimal kompetensi yang diharapkan.

Selain itu, literasi membaca dan numerasi dasar masih menjadi masalah besar; data menunjukkan bahwa sebagian besar siswa usia sekolah menengah belum mencapai kompetensi yang setara dengan standar global.

Kondisi ini kemudian memunculkan risiko jangka panjang, di mana kompetensi lulusan pendidikan formal tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan industri berteknologi tinggi. Situasi ini juga berpotensi memperlebar kesenjangan antara lulusan dengan keterampilan tinggi dan mereka yang hanya mengikuti pendidikan formal namun tidak siap kerja.

Tantangan Sistemik: Dari Kurikulum hingga Konteks Global

Permasalahan pendidikan Indonesia sebenarnya bukan sekadar angka skor rendah. Ia mencerminkan fragmen sistemik: ketidaksesuaian antara kurikulum yang diajarkan di sekolah dan kebutuhan keterampilan di dunia kerja; ketimpangan kualitas guru dan fasilitas pendidikan; serta kurangnya fokus pada kompetensi abad ke-21 seperti pemecahan masalah, kreativitas, dan literasi digital.

Kurikulum nasional sering dikritik karena terlalu padat konten dan kurang adaptif terhadap kebutuhan industri global. Hal ini berarti lulusan mungkin menguasai banyak informasi namun tidak memiliki keterampilan aplikatif yang dibutuhkan dalam praktik kerja modern.

Menuju Perubahan Global: Solusi yang Harus Dibangun

Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan reformasi pendidikan yang berani dan holistik. Ini termasuk:

  1. Revitalisasi kurikulum yang menekankan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, teknologi digital, dan inovasi.
  2. Pemberdayaan guru melalui pelatihan profesional berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan untuk menarik talenta lebih berkualitas.
  3. Pemerataan akses dan fasilitas pendidikan, termasuk konektivitas internet dan infrastruktur digital di daerah terpencil.
  4. Kolaborasi antara sektor pendidikan dan industri untuk memastikan kurikulum menghasilkan lulusan yang siap kerja.

Titik Nadir atau Titik Balik?

Indonesia memiliki modal demografis besar dengan jumlah generasi muda yang potensial menjadi kekuatan ekonomi global. Namun, jika kualitas pendidikan tidak diperbaiki secara fundamental, potensi ini justru bisa berubah menjadi beban perkembangan negara.
Data empiris dari skor PISA hingga indeks kompetensi dasar siswa menunjukkan bahwa sistem pendidikan nasional membutuhkan transformasi yang mendalam agar mampu mencetak SDM yang berdaya saing global, bukan sekadar lulusan formal.

Masa depan pendidikan Indonesia bukan soal meraih angka skor tinggi di laporan internasional, tetapi menciptakan generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif, serta mampu bersaing dalam ekonomi global yang semakin kompleks. Inilah tantangan pendidikan Indonesia sekaligus panggilan untuk perubahan sistemik yang nyata. (*)

Pilpres Organisasi Pelajar Al-Zaytun: Instrumen Pedagogis dalam Praktik Demokrasi

Pemilihan Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) periode 2026–2027 usai digelar pada Rabu, 11 Februari 2026, di Gedung Al-Akbar. Dalam ajang Pilpres OPMAZ Dharma...

Artikel Lainnya

Global

Nasional

Peristiwa

spot_imgspot_img

Sains

spot_img

Editorial

Feature