Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
spot_img

World Defense Show 2026: Diplomasi Senyap di Balik Pameran Senjata

spot_imgspot_img

World Defense Show (WDS) 2026 di Riyadh, Arab Saudi, tidak sekadar menjadi ajang pamer teknologi militer, tetapi juga mencerminkan arah baru politik dan ekonomi global. Dengan ratusan peserta dari puluhan negara, pameran ini memperlihatkan bagaimana industri pertahanan kini bergerak menuju integrasi lintas domain: darat, laut, udara, ruang angkasa, dan siber yang ditopang kecerdasan buatan serta sistem otomatis.

Tema “The Future of Defense Integration” menegaskan satu realitas: negara-negara di dunia sedang berlomba membangun sistem tempur yang semakin terhubung, cepat, dan presisi. Integrasi ini bukan sekadar kemajuan teknologi, melainkan perubahan paradigma peperangan. Perang tidak lagi hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga dominasi data, jaringan, dan algoritma.

Baca Juga

Pakar hubungan internasional dari Harvard University, Stephen M. Walt, dalam berbagai tulisannya tentang keamanan global menekankan bahwa perlombaan senjata modern sering berakar pada security dilemma. Menurutnya, ketika satu negara memperkuat sistem pertahanannya, negara lain akan merasa terancam dan melakukan hal serupa, sehingga tercipta siklus kompetisi yang sulit dihentikan.

- Advertisement -

Dalam konteks pameran seperti WDS, logika itu terlihat jelas: inovasi teknologi dipromosikan sebagai upaya stabilitas, tetapi pada saat yang sama mempercepat dinamika perlombaan senjata. Bagi Arab Saudi, WDS merupakan instrumen ekonomi dan geopolitik sekaligus.

Melalui program Vision 2030, kerajaan menargetkan lokalisasi 50 persen belanja militernya. Industri pertahanan diposisikan sebagai sektor strategis untuk diversifikasi ekonomi pasca-minyak. Artinya, senjata tidak lagi sekadar alat keamanan negara, tetapi juga komoditas industri yang mendorong investasi, transfer teknologi, dan penciptaan lapangan kerja.

Pakar ekonomi politik internasional dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI), Pieter D. Wezeman, menilai bahwa ekspansi industri pertahanan global dalam dua dekade terakhir menunjukkan perubahan orientasi negara. Menurutnya, banyak pemerintah kini melihat sektor militer sebagai mesin pertumbuhan industri, bukan hanya instrumen keamanan. Konsekuensinya, kepentingan ekonomi dan kepentingan militer semakin sulit dipisahkan.

Baca Juga

Fenomena itu tampak jelas di WDS 2026. Di satu sisi, pameran ini membuka peluang kerja sama teknologi, produksi bersama, dan lokalisasi industri. Di sisi lain, setiap kontrak pertahanan yang diteken memperluas distribusi sistem senjata canggih ke berbagai kawasan. Proses ini berpotensi mempercepat penyebaran teknologi militer, termasuk sistem berbasis kecerdasan buatan dan kendaraan nirawak yang relatif lebih mudah diproduksi secara massal.

Pakar keamanan internasional dari University of Sydney, Hugh White, pernah mengingatkan bahwa dunia sedang bergerak menuju tatanan multipolar yang lebih kompetitif. Dalam kondisi seperti itu, setiap negara cenderung meningkatkan kemampuan militernya untuk menjaga posisi strategis. Menurutnya, tanpa mekanisme kontrol senjata yang kuat, kompetisi teknologi militer dapat memperbesar risiko konflik, baik secara langsung maupun melalui perang proksi.

WDS 2026 juga memperlihatkan bahwa diplomasi pertahanan kini menjadi instrumen utama hubungan internasional. Di balik stan pameran, berlangsung negosiasi, kesepakatan produksi bersama, hingga transfer teknologi. Pameran militer bukan lagi sekadar etalase senjata, melainkan ruang diplomasi ekonomi dan politik yang menentukan keseimbangan kekuatan regional.

Namun, dinamika ini membawa konsekuensi jangka panjang. Ketika industri pertahanan menjadi sektor ekonomi utama, konflik dan ketegangan geopolitik berpotensi berubah menjadi pasar yang menguntungkan. Logika industri dapat mendorong negara untuk terus berinvestasi pada senjata, bahkan ketika ancaman nyata belum tentu meningkat secara signifikan.

WDS 2026 akhirnya menjadi cermin dunia saat ini: teknologi militer berkembang pesat, integrasi sistem semakin kompleks, dan diplomasi pertahanan menjadi bagian dari strategi ekonomi.

Di balik narasi inovasi dan kesiapan masa depan, tersimpan pertanyaan mendasar yang belum terjawab: apakah integrasi pertahanan akan menciptakan stabilitas global, atau justru mempercepat perlombaan senjata yang semakin sulit dikendalikan.

Penulis: Zein AF

Pilpres Organisasi Pelajar Al-Zaytun: Instrumen Pedagogis dalam Praktik Demokrasi

Pemilihan Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) periode 2026–2027 usai digelar pada Rabu, 11 Februari 2026, di Gedung Al-Akbar. Dalam ajang Pilpres OPMAZ Dharma...

Artikel Lainnya

Global

Nasional

Peristiwa

spot_imgspot_img

Sains

spot_img

Editorial

Feature