Asap gas air mata masih menggantung di udara Teheran ketika kabar kematian kembali menyebar dari mulut ke mulut. Demonstrasi yang semula dipicu runtuhnya ekonomi kini berubah menjadi pertaruhan politik paling serius yang dihadapi Republik Islam Iran dalam satu dekade terakhir. Ratusan orang diyakini tewas, ribuan lainnya ditangkap. Jalanan tidak lagi sekadar arena protes, tetapi ruang terbuka bagi ketakutan, kemarahan, dan harapan yang nyaris putus.
Kemelut ini bermula dari sesuatu yang tampak sederhana namun mematikan: uang yang kehilangan nilainya. Pada 28 Desember, para pemilik toko turun ke jalan-jalan, memprotes anjloknya nilai rial terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Iran jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah, sementara inflasi melonjak hingga sekitar 40 persen. Harga minyak goreng, daging, dan kebutuhan pokok lainnya melesat jauh dari jangkauan kelas pekerja.
Ekonomi Iran tercekik dari dua arah: sanksi internasional terkait program nuklir dan penyakit lama bernama salah urus serta korupsi struktural di tubuh pemerintahan. Dalam kondisi seperti itu, kemarahan sosial hanya menunggu percikan.
Percikan itu datang cepat. Mahasiswa dari berbagai universitas bergabung, memperluas demonstrasi dari isu ekonomi menjadi tuntutan politik. Aksi menyebar ke kota-kota besar dan kecil, dari pusat metropolitan hingga daerah pinggiran. Slogan-slogan pun berubah nada, bukan lagi soal harga, melainkan kekuasaan. Nama Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, diteriakkan sebagai simbol kemarahan.
Dalam beberapa pemakaman korban demonstrasi, video yang diverifikasi media internasional memperlihatkan pelayat meneriakkan, “Matilah Khamenei.” Kalimat yang sebelumnya nyaris mustahil terdengar di ruang publik Iran, kini menggema di tanah pemakaman.
Data dari Human Rights Activist News Agency (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat mencatat protes telah terjadi di 186 kota dan desa di seluruh 31 provinsi Iran. Lebih dari 10.000 orang dilaporkan ditangkap. Hampir 500 demonstran dan puluhan aparat keamanan tewas. Nama-nama korban mulai dikenal publik, Amir Mohammad Koohkan, 26 tahun, pelatih sepak bola; Aminian, 23 tahun, mahasiswa Kurdi. Mereka bukan tokoh politik, melainkan wajah biasa dari kemarahan luar biasa.
Negara merespons dengan tangan besi. Meriam air, peluru karet, hingga peluru tajam dilaporkan digunakan. Internet dipadamkan, memutus Iran dari dunia luar. Di tengah kegelapan digital itu, jaringan satelit Starlink milik Elon Musk dipromosikan sebagai jalur alternatif, meski para pengguna diperingatkan: sinyal bisa dilacak, dan risikonya nyata.
Di sinilah bayang-bayang Amerika Serikat memasuki panggung. Presiden Donald Trump berulang kali melontarkan ancaman akan mengambil tindakan militer jika aparat Iran terus membunuh demonstran. Bagi sebagian warga Iran, pernyataan itu terdengar seperti solidaritas. Bagi Teheran, itu adalah bukti campur tangan asing.
Dukungan simbolik Washington justru menjadi pedang bermata dua. Rezim Iran memanfaatkan retorika tersebut untuk memperkuat narasi lama: bahwa setiap gejolak domestik adalah hasil konspirasi Barat. Ancaman dari luar memberi alasan baru untuk menutup ruang kritik di dalam negeri.
Sementara itu, figur lama kembali muncul dalam imajinasi sebagian massa. Dukungan terhadap Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang hidup di pengasingan, makin terdengar. Sebuah ironi sejarah: bayangan monarki yang digulingkan pada 1979 kembali dipanggil oleh generasi yang lahir jauh setelah Revolusi Islam.
Iran sendiri adalah negara dengan sekitar 90 juta penduduk, diperintah oleh Pemimpin Tertinggi yang memiliki keputusan final atas urusan strategis, termasuk penanganan protes. Parlemen ada, tetapi didominasi loyalis. Kritik dibatasi, kebebasan pribadi dikontrol ketat. Hukum wajib jilbab bagi perempuan yang memicu protes besar pada 2022 tetap menjadi simbol represi negara. Iran juga tercatat sebagai salah satu negara dengan tingkat eksekusi tertinggi di dunia.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat telah lama berada dalam kondisi permusuhan sejak Revolusi 1979. Washington menuduh Teheran mendestabilisasi Timur Tengah melalui dukungan terhadap kelompok bersenjata seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Iran membalas dengan tudingan campur tangan Amerika di kawasan.
Program nuklir menjadi titik api utama: AS mengklaim Iran ingin membangun senjata nuklir, tuduhan yang selalu dibantah Teheran. Tahun lalu, situs-situs nuklir Iran dibombardir, dan sanksi internasional kembali menghantam ekonomi rakyat.
Lalu, apakah kemelut Iran ini ulah Amerika? Jawabannya tidak sesederhana propaganda dua kubu. Protes ini lahir dari perut rakyat Iran sendiri, dari dompet yang kosong, masa depan yang gelap, dan negara yang menutup telinga. Namun, Amerika hadir sebagai faktor penguat tekanan: melalui sanksi, ancaman, dan simbol dukungan yang membentuk persepsi global sekaligus paranoia rezim.
Di jalanan Teheran, rakyat Iran terjepit di antara dua kekuatan besar: negara yang represif dan geopolitik global yang tak pernah netral. Mereka berteriak untuk hidup yang lebih layak, tetapi gema teriakannya memantul ke Washington, Tel Aviv, dan seluruh dunia. Di situlah tragedi Iran hari ini: amarah yang tulus berisiko ditelan pertarungan kekuasaan yang jauh lebih besar dari mereka sendiri. (*)
Editor: Zein AF







