Mahad Alzaytun kembali menegaskan keberaniannya menantang zaman. Pendirian Politeknik Alzaytun Indonesia Raya (AIR) bukan sekadar proyek pendidikan, melainkan pernyataan sikap. Di tengah krisis pangan global, kegamangan industri nasional, dan ancaman kerusakan lingkungan, Alzaytun memilih menjawabnya dengan kerja sunyi bernama pendidikan vokasi.
Pilihan ini sejalan dengan gagasan yang menegaskan bahwa pendidikan sejati bukanlah proses “mengisi kepala”, melainkan upaya membebaskan manusia dari struktur ketergantungan. Sejalan dengan pemikiran Freire, seorang filsuf, tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan yang berpengaruh di dunia. Bahwa pendidikan vokasi yang berakar pada realitas sosial bukan sekadar transfer keterampilan, tetapi sarana membangun kesadaran kritis agar manusia mampu membaca dan mengubah dunianya.
Pilihan program studi yang dihadirkan tidak lahir dari romantisme akademik. Agronomi, Peternakan, Teknik Mesin, dan Kehutanan adalah disiplin yang menyentuh langsung urat nadi peradaban. Di sanalah pangan diproduksi, mesin industri dirawat, dan alam dijaga agar tetap menjadi ruang hidup bersama.
Politeknik ini tidak dirancang sebagai menara gading, melainkan sebagai bengkel masa depan. Sebuah pendekatan yang sejalan dengan pemikiran , yang menekankan bahwa pendidikan harus bertumpu pada pengalaman nyata dan problem konkret masyarakat.
Peletakan batu penjuru pada 28 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, memberi lapisan makna yang lebih dalam. Momentum itu dibaca sebagai penegasan arah sejarah. Di hadapan para akademisi dan tokoh nasional, langkah tersebut menjadi deklarasi bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak boleh tercerabut dari kesadaran kebangsaan. Dalam perspektif , bangsa dibangun melalui imajinasi kolektif yang terus dirawat, dan pendidikan merupakan salah satu instrumen utama pembentuk kesadaran tersebut.
Pandangan ini ditegaskan oleh Prof. Dr. Hamja, Dekan Fakultas Hukum Universitas Wiralodra Indramayu. Ia menilai peletakan batu penjuru tersebut bukan seremoni biasa, melainkan tonggak yang dipilih secara sadar karena mengandung nilai filosofis yang kuat.
Menurutnya, pilihan hari yang sarat makna sejarah itu mencerminkan upaya menyatukan berbagai disiplin ilmu—dari ketahanan pangan hingga ketahanan hukum, dalam satu cita-cita bersama, yakni perjuangan keadilan yang berkelanjutan.
Sementara itu, Prof. Dr. Ciek Julyati Hisyam melihat pendirian Politeknik Tanah Air Indonesia Raya sebagai respons konkret terhadap krisis teknokrat yang dihadapi bangsa. Dalam semangat Sumpah Pemuda, ia menilai Alzaytun sedang membangun standar baru pendidikan politeknik nasional yang menekankan inovasi terapan.
Pandangan ini sejalan dengan teori tentang capability approach, bahwa pembangunan sejati diukur dari kemampuan manusia mengembangkan potensi dan kebebasannya, bukan semata pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, Panji Gumilang menautkan pembangunan fisik politeknik dengan orientasi nilai. Kutipan ayat tentang menghadap ke Masjidil Haram yang disampaikannya bukan sekadar simbol keagamaan, melainkan pernyataan bahwa ilmu, teknologi, dan kerja vokasi harus berpijak pada etika dan kesadaran spiritual. Pandangan ini bersinggungan dengan kritik tentang bahaya rasionalitas instrumental yang memisahkan kerja dari nilai, dan menjadikan manusia sekadar alat produksi.
Prinsip ini mempertegas gagasan tersebut dengan menyebut tanah Indonesia bukan sekadar bentang geografis, melainkan ruang pengabdian. Di sanalah kesadaran ditanam dan kemanusiaan ditumbuhkan. Visi ini sejalan dengan perspektif ekologi sosial yang menempatkan manusia sebagai bagian dari alam, bukan penguasa tunggalnya. Lulusan politeknik ini diharapkan tidak hanya menjadi teknisi andal, tetapi subjek sosial yang berkarakter, berkeadilan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Dengan demikian, batu penjuru yang diletakkan hari itu bukan sekadar fondasi beton. Ia adalah simbol keberanian melawan stigma, sekaligus titik awal peradaban vokasi yang berangkat dari kerja keras, disiplin ilmu, dan keberpihakan pada masa depan bangsa.
Pendirian Politeknik Alzaytun Indonesia Raya akhirnya tampil sebagai counter-narrative yang kuat. Di tengah riuh kontroversi dan dinamika sosial, Alzaytun memilih jalan yang lebih menantang: menjawab tantangan zaman melalui penguatan pendidikan, riset terapan, dan penanaman nilai kemanusiaan.
Editor: Zein AF






