Indonesia berada di persimpangan masa depan pangan global. Dengan wilayah yang luas dan biologis beragam, negara ini sering digadang-gadang sebagai calon “lumbung pangan dunia” peran strategis yang bukan sekadar memberi makan rakyatnya sendiri, tetapi juga menopang ketahanan pangan global di tengah gejolak pasar dan perubahan iklim. Namun, ambisi itu tidak datang tanpa kontradiksi: potensi besar yang dibayang-bayangi oleh tantangan struktural dan kebijakan yang kompleks.
Secara geografis, Indonesia sesungguhnya memiliki modal awal yang sangat kuat. Total luas wilayah mencapai 191,09 juta hektare, termasuk bagian signifikan yang bisa dimanfaatkan untuk pertanian produktif. Data pemerintah menunjukkan bahwa dari jumlah itu, sekitar 12,23 juta hektare dapat dipersiapkan sebagai lahan pertanian produktif, termasuk lahan basah dan lahan rawa yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal.
Jika lahan ini berhasil diolah secara berkelanjutan ditambah optimalisasi lahan kering yang mencapai 63,4 juta hektare Indonesia tidak hanya memenuhi kebutuhan sendiri tetapi juga mampu berkontribusi pada ketahanan pangan dunia.
Surplus Produksi vs Tantangan Struktural
Kinerja produksi pangan nasional menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Data BPS dan prognosa USDA menunjukkan produksi beras Indonesia meningkat signifikan pada 2025, mencapai sekitar 33,19 juta ton, naik lebih dari 12 % dibanding tahun sebelumnya. Bahkan proyeksi USDA memperkirakan potensi 34,6 juta ton, yang berada di atas kebutuhan konsumsi nasional tahunan.
Surplus ini menjadi dasar kuat klaim bahwa Indonesia sedang bergerak ke arah swasembada pangan dan membuka peluang kontribusi yang lebih luas di pasar global. Menurut Wakil Menteri Pertanian, surplus produksi gabah menunjukkan kapasitas produksi nasional yang lebih besar daripada konsumsi domestik.
Namun di balik angka produksi yang menggembirakan, realitas struktural tetap menantang. Tren penurunan luas areal persawahan dari sekitar 8,1 juta hektare (2015) menjadi 7,4 juta hektare (2019) menunjukkan bahwa pertanian Indonesia sedang kehilangan salah satu fondasi utamanya: tanah produktif.
Laju konversi lahan pertanian menjadi kawasan non-pertanian untuk perumahan, industri, dan infrastruktur memperkecil ruang produksi pangan domestik dan mengikis ketahanan jangka panjang. Bahkan setiap tahun, sekitar 100 ribu hektare sawah hilang karena konversi, sementara pembukaan sawah baru tidak sebanding.
Potensi Besar, Risiko Nyata
Indonesia memiliki modal lain yang sering kali kurang disorot: keberadaan lahan rawa seluas jutaan hektare yang bisa dipakai untuk tanaman pangan jika dibarengi dengan teknologi irigasi dan mekanisasi yang memadai. Ini merupakan sumber potensi produktivitas yang besar namun juga memerlukan investasi besar dan pendekatan ekologis yang hati-hati.
Perubahan iklim juga menjadi ancaman serius. Fenomena seperti El Niño dapat menyebabkan kekeringan dan gangguan musim tanam yang signifikan, sebagaimana pernah terlihat saat produksi rice diperkirakan turun akibat musim kemarau panjang.
Belum lagi persoalan infrastruktur pertanian, akses pasar, dan teknologi yang masih belum merata di seluruh wilayah Indonesia. Ketidakmerataan ini membuat produktivitas di satu daerah bisa jauh lebih tinggi dibandingkan daerah lain, padahal justru kesetaraan produksi akan menjadi kunci bagi cita-cita menjadi lumbung pangan dunia.
Kedaulatan Pangan: Lebih dari Sekadar Produksi
Dalam narasi agraria global, kedaulatan pangan bukan hanya soal angka produksi dan surplus komoditas. Ia juga soal ketahanan sistem pangan secara keseluruhan:
- Distribusi yang adil agar setiap rumah tangga dapat mengakses pangan dengan harga terjangkau;
- mengurangi ketergantungan impor komoditas tertentu seperti daging, kopi, atau pangan olahan;
- memperkuat posisi petani kecil sebagai tulang punggung sistem produksi;
- dan melindungi lahan produktif dari konversi tanpa pertimbangan masa depan.
Tanpa landasan ini, Indonesia bisa terpeleset dari janji lumbung pangan dunia menjadi konsumen besar pangan global, seperti yang dialami banyak negara berkembang lain. Optimisme produksi tidak bisa menggantikan kebutuhan fundamental akan reformasi kebijakan agraria, peningkatan produktivitas berkelanjutan, dan perlindungan lahan pertanian jangka panjang.
Ambisi vs Realitas
Indonesia memiliki modal alam yang besar, data produksi yang menunjukkan tren positif, dan dukungan kebijakan untuk pertanian. Namun, struktur agraria yang rapuh dari lahan yang terus hilang, perubahan iklim yang semakin ekstrem, hingga distribusi dan infrastruktur yang belum merata menghadirkan tantangan yang tidak bisa diabaikan.
Menjadi lumbung pangan dunia bukan sekadar slogan. Ia memerlukan transformasi sistemik: dari kebijakan lahan, inovasi teknologi, hingga pemberdayaan petani kecil. Tanpa itu, potensi besar akan tetap menjadi janji yang menggantung, sementara tantangan pangan semakin nyata di depan mata. (*)







