Minggu, Februari 22, 2026
spot_img
spot_img

Tiga Pendekatan Pendidikan Kontemporer: Jalan Panji Gumilang Membangun Peradaban

spot_imgspot_img

Di tengah hiruk-pikuk pendidikan modern yang kerap terjebak pada angka, peringkat, dan ijazah, Syaykh Alzaytun Prof. Dr. Abdussalam R. Panji Gumilang, M.P menghadirkan sebuah konsep pendidikan kontemporer yang bergerak melampaui sekat ruang kelas dan batas kurikulum formal. Pendidikan, dalam pandangannya, bukan sekadar proses transfer pengetahuan dari guru kepada murid, melainkan proses penyadaran menyeluruh atas jati diri manusia sebagai makhluk berakal, bermoral, dan sosial.

John Dewey, filsuf pendidikan Amerika, menegaskan bahwa pendidikan bukan persiapan hidup, melainkan kehidupan itu sendiri (education is not preparation for life; education is life itself). Pendidikan, dengan demikian, harus bersentuhan langsung dengan realitas, nilai, dan persoalan zaman.

Baca Juga

Pendekatan pendidikan kontemporer yang digagas Panji Gumilang bertumpu pada tiga kesadaran utama: filosofis, ekologis, dan sosial. Tiga kesadaran ini menjadi fondasi pendidikan yang tidak hanya mencetak manusia cerdas secara intelektual, tetapi juga manusia beradab secara moral dan sosial.

- Advertisement -

Kesadaran Filosofis: Pancasila sebagai Jiwa Pendidikan

Bagi Panji Gumilang, pendidikan tidak boleh tercerabut dari akar kebangsaan. Di sinilah Pancasila ditempatkan bukan sebagai hafalan normatif, melainkan sebagai kesadaran filosofis. Pancasila adalah cara berpikir, cara bersikap, sekaligus cara hidup.

Gagasan ini memiliki irisan kuat dengan pemikiran Paulo Freire, tokoh pendidikan kritis asal Brasil, yang menolak pendidikan model “bank” di mana peserta didik hanya menjadi wadah hafalan. Freire menekankan pendidikan sebagai proses conscientização, yakni pembangkitan kesadaran kritis. Dalam konteks Indonesia, Panji Gumilang memandang Pancasila sebagai basis kesadaran kritis tersebut.

Baca Juga

Ketuhanan menumbuhkan kesadaran spiritual bahwa ilmu tidak berdiri di ruang hampa. Kemanusiaan membentuk empati dan penghormatan terhadap martabat manusia. Persatuan meneguhkan kebersamaan dalam keberagaman. Kerakyatan melatih budaya dialog dan musyawarah. Keadilan sosial mengarahkan tujuan akhir pendidikan pada kemaslahatan bersama.

Pendidikan yang berpijak pada Pancasila, dalam pandangan Panji Gumilang, melahirkan manusia yang tidak hanya fasih berbicara tentang nilai, tetapi mampu menghidupi nilai itu dalam praktik keseharian, sebuah pendidikan nilai yang hidup, bukan slogan kosong.

Kesadaran Ekologis: Pendidikan dalam Jaring Kehidupan

Kesadaran kedua yang ditekankan adalah kesadaran ekologis, pandangan bahwa pendidikan hidup dalam jejaring kehidupan yang saling terhubung. Pendidikan tidak berdiri sendiri, tetapi berkelindan dengan ekologi alam semesta, ekologi sosial, dan ekologi ekonomi.

Pemikiran ini sejalan dengan teori ecological systems dari Urie Bronfenbrenner, yang menegaskan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh sistem yang saling berlapis: keluarga, sekolah, masyarakat, hingga struktur sosial yang lebih luas. Dalam kerangka Panji Gumilang, pendidikan adalah bagian dari ekosistem besar kehidupan, bukan institusi yang terisolasi.

Alam tidak ditempatkan sebagai objek eksploitasi, melainkan sebagai ruang belajar. Sawah, sungai, hutan, dan langit adalah laboratorium kehidupan yang mengajarkan keteraturan, keseimbangan, dan keberlanjutan. Pandangan ini beririsan dengan etika lingkungan Aldo Leopold, yang menekankan land ethic, bahwa manusia adalah bagian dari komunitas ekologis, bukan penguasanya. Kesadaran ekologis juga mencakup ekologi ekonomi.

Pendidikan tidak boleh melahirkan manusia rakus yang menjadikan ilmu sebagai alat eksploitasi. Ilmu ekonomi, dalam perspektif ini, harus berpihak pada keberlanjutan dan keadilan sosial.

Pandangan tersebut selaras dengan kritik Amartya Sen terhadap pembangunan yang hanya berorientasi pada pertumbuhan, tanpa memperhatikan keadilan dan kualitas hidup manusia. Bagi Panji Gumilang, pendidikan adalah jembatan antara ilmu dan keberlanjutan hidup, menghubungkan pengetahuan dengan tanggung jawab ekologis.

Kesadaran Sosial: Ilmu untuk Kehidupan Bersama

Kesadaran ketiga adalah kesadaran sosial. Pendidikan tidak boleh melahirkan individu yang tercerabut dari masyarakatnya. Ilmu harus kembali pada fungsi dasarnya: mengabdi pada kehidupan bersama.

Pemikiran ini sejalan dengan teori pendidikan sebagai praksis sosial dari Émile Durkheim, yang memandang pendidikan sebagai sarana membentuk solidaritas sosial. Pendidikan, dalam kerangka ini, bukan sekadar urusan individu, melainkan proses pembentukan kesadaran kolektif.

Kesadaran sosial menumbuhkan kepekaan terhadap ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan. Peserta didik tidak hanya diajak bertanya, “apa yang saya dapatkan”, tetapi “apa yang dapat saya kontribusikan”. Di sinilah pendidikan menjadi wahana pembentukan karakter sosial, gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Pandangan ini juga sejalan dengan konsep service learning, yang menempatkan pengabdian sosial sebagai bagian integral dari proses belajar. Ilmu diuji bukan hanya di ruang ujian, tetapi di tengah realitas kehidupan.

Menjahit Tiga Kesadaran

Bagi Panji Gumilang, tiga kesadaran tersebut bukanlah konsep yang berdiri sendiri. Ia saling menjahit dan menguatkan. Kesadaran filosofis memberi arah nilai, kesadaran ekologis menjaga keseimbangan kehidupan, dan kesadaran sosial memastikan ilmu berpihak pada kemanusiaan.

Inilah pendidikan yang tidak hanya menyiapkan masa depan individu, tetapi juga menjaga masa depan peradaban. Pendidikan yang tidak sekadar mencetak lulusan, melainkan membentuk manusia yang sadar akan Tuhannya, peduli pada alamnya, dan bertanggung jawab terhadap sesamanya.

Di tengah krisis nilai, krisis lingkungan, dan krisis sosial global, gagasan pendidikan ala Syaykh Alzaytun Panji Gumilang menjadi pengingat penting: masa depan peradaban tidak ditentukan oleh kecanggihan teknologi semata, melainkan oleh kualitas kesadaran manusia yang dibentuk melalui pendidikan.

Penulis: Sacim Zein, Jurnalis dan kolumnis di beberapa media.

Pilpres Organisasi Pelajar Al-Zaytun: Instrumen Pedagogis dalam Praktik Demokrasi

Pemilihan Presiden Organisasi Pelajar Ma’had Al-Zaytun (OPMAZ) periode 2026–2027 usai digelar pada Rabu, 11 Februari 2026, di Gedung Al-Akbar. Dalam ajang Pilpres OPMAZ Dharma...

Artikel Lainnya

Global

Nasional

Peristiwa

spot_imgspot_img

Sains

spot_img

Editorial

Feature